Jumat, 14 September 2012

TEKNOLOGI FERMENTASI PAKAN UNTUK PENGGEMUKAN DOMBA


Peternakan merupakan salah satu bidang pertanian yang mempunyai peranan sangat besar dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam sektor pertanian. Bila dikelola dengan baik hal ini akan menjadi sumber mata pencaharian yang menjanjikan bagi masyarakat. Pertanian dan perternakan merupakan dua bidang yang berbeda tapi sangat terkaitverat hubunganya. Baru-baru ini peternakn modern telah masuk ke wilayah desa-desa diantaranya adalah desa Paseh melalui gapoktan. Adalah Bpk. Suaratin 28 th yang tinggal di RT07/02 Desa Paseh Banjarmangu dan Ibu Sukapti  Handayani seorang ibu rumah tangga yang beralamat di Desa Paseh RT 05/ RW 03. Beliau adalah salah satu warga yang telah mengembangkan teknologi pertanian ini. Teknologi pertanian ini memang sangat mudah dilakukan oleh semua orang baik laki-laki atau perempuan. Metode ini adalah peternakan yang mengacu kepada system pertanian organik tanpa bahan kimia.
Selain hasil dari peternakanya, budidaya ini juga menghasilkan nilai ekonomis lain berupa air kencing domba dan kotoran domba yang kemudian di proses kembali menjadi berbagai macam bahan baik untuk pertanian seperti pupuk, pestisida maupun untuk peternakan seperti pakan ternak dan nutrisi untuk peternakan.
Pertanian tanpa pupuk kandang, maka hasil pertaniannya tidak maksimal. Maka para petani di desa Paseh memanfaatkan hasil limbah ternak (pupuk kandang) yang bisa digunakan sebagai pupuk untuk memupuk tanaman.
Pada sisi lain Pemerintah Indonesia sudah mematok bahwa sampai dengan tahun 2014 pertanian kita harus sudah organik. Sejalan dengan itu, usaha penggemukan domba dengan teknologi ini dan melalaui penelitian akan menghasilkan daging domba organik yang tentu saja menyehatkan.
Secara ringkas model penggemukan domba dengan teknologi ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya :
1.       Tidak perlu merumput tiap hari karena bahan pakan diolah dengan Teknologi fermentasi dan dapat disimpan sesuai kebutuhan.
2.       Tidak menimbulkan bau/amoniak, karena limbah secara alami di proses oleh mikroorganisme yang ada di bahan pakan.
3.       Menghasilkan limbah yang berkualtas, bisa dimanfaatkan untuk pupuk tamanan, pakan unggas (ayam, bebek, ikan dll).
4.       Tidak memerlukan tempat yang luas, karena untuk 10 ekor cukup hanya dengan kandang ukuran 1.5 x 3 meter.
5.       Bahan pakan mudah didapat, karena pakan dibuat dari berbagai campuran yang ada di lingkungan kita seperti gedebog pisang, rumput, ketela dll.
6.       Proses Fermentasinya singkat hanya 24 jam sudah siap / jadi.
7.       Waktu pemeliharaan cukup singkat, hanya 3 bulan, dan pangsa pasar masih terbuka lebar.
ANALISA PENGGEMUKAN DOMBA 20 EKOR DALAM WAKTU 3 BULAN
DENGAN TMM (Teknologi Mikroorganisme Metriks)

1.            Biaya investasi (Tetap) Penyusutan 5%
a)                   Bangunan Kandang                         Rp. 5.000.000,-
b)                  Bak / tempat Fermentasi                  Rp. 1.500.000,-
c)                   Biaya alat- alat lain2                        Rp.    500.000,-
Jumlah Biaya Investasi Rp. 7.000.000,-- Penyusutan Rp. 350.000,-               Rp 6.650.000,-

2.            Biaya produksi (variable)
a)      Pembelian bibit domba 20 ekor @ 18 kg x Rp.612.000 x 20     Rp.12.240.000,-
b)      Tenaga kerja  1 orang @ Rp.750.000 x 3 bulan                         Rp.  2.250.000,-
c)       Pakan  Rp.30.000,-/bulan /ekor  x 3 bulan x 20 ekor                 Rp   1.800.000,-
d)      Lain-lain Rp.250.000,- x 3 bulan                                                Rp.     750.000,-
Jumlah biaya produksi                                                                      Rp.17.040.000,-
3.            Pendapatan (Asumsi pertambahan bobot 23 kg  selama 3 bulan)
a)      Penjualan 41 kg /ekor x Rp.31.000,- = Rp.1.271.000,- x 20 ekor        Rp.25.420.000,-
b)      Hasil kotoran 18 kg/bulan /ekor  x 20 ekor x 3 bulan x Rp.500,-/kg      Rp       540.000,-
c)       Limbah kecing 6 lt/ bulan /ekor x 20 ekor x 3 bulan x Rp.500,-/lt          Rp.     180.000,-
Total Pendapatan                                                                                        Rp.26.140.000,-

4.            Keuntungan :
Pendapatan – Biaya Produksi  :
= Rp.26.140.000,- - Rp.17.040.000,-            = Rp.  9.100.000,- / 3 bulan atau :
= Rp.  7.860.000,- : 3  bulan                           = Rp.  3.033.333,-/ bulan atau :
= Rp.  7.860.000,- : 20  ekor                          = Rp.      455.000,-/ ekor

5.            Analisa Usaha :

a.            Laba Usaha         = Pendapatan       (Biaya Produksi + Biaya Investasi )
= Rp.26.140.000,- - (Rp.17.040.000,+ Rp.6.650,000,-)
                                                    = Rp.26.140.000,- ( - ) Rp.23.690.000,-
                                                                     = Rp.2.450.000,-

b.            Analisa Kelayakan Usaha (B/C Ratio)
                                B/C Ratio             = Pendapatan / Biaya
                                                            =Rp.26.140.000  / Rp.23.690.000,-
                                                            = Rp.1.103,-
Yang artinya bahwa setiap peningkatan biaya sebesar Rp.100,-akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp. 1.103,-

c.             Analisis BEP (Break Even Point)
                                BEP Harga Produk            = Pendapatan / total pertambahan berat/jumlah domba
                                                                                = Rp.26.140.000  : 460 kg  : 20 ekor
                                                                                = Rp.65,826 kg : 20 ekor
                                                                                = Rp.2.841,- kg/ekor
Artinya bahwa titik impas akan tercapai apabila domba dijual dengan harga Rp.2.841,-/kg bobot hidup

d.            Analisa Efisiensi Penggunaan Modal (Return Of Invesment / ROI)
ROI      = Laba / Total biaya x 100 %
= Rp.2.450.000,-:  Rp.23.690.000,-  x 100 %
= Rp.10.34 % / tiga bulan
Artinya bahwa usaha ini menghasilkan pendapatan setara dengan bunga Bank 10.34% per tiga bulan, atau 3.45% per bulan
Prosentase Pemberian Pakan 10% dari berat badan
Prosentase Pembuatan pakan untuk 100 kg         :
35 % Debog Pisang          = 35 kg
25 % Ampas Tahu             = 25 kg
15 % PMT / rumput         = 15 kg
15 % Gaber / Ketela        = 15 kg
8  %  Bekatul                   =   8 kg
1 % Tetes tebu/ gula pasir            =   1 kg
1 % Mineral / garam iodium         =   1 kg
Kemudian dicampurkan dengan Suplemen Organik Cair ( SOC )

1 komentar:

eko cahyo wiyono mengatakan...

yang bener aja bos masa dalam 3 bulan bobot bisa tambah 23 kilo???????mimpi kali ya???????

Poskan Komentar

 
Design by Ochan | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls